Rabu, 25 Mei 2011

"Langit bukan Manusia ☺"

♥☺

Keke membuka jendela kamarnya. Merasakan setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Udara yang begitu sejuk, namun syahdu. Sesyahdu suasananya kini.

Ia memilih untuk bersandar di tepi jendela kamarnya. Ini pagi. Bukan petang. Tapi entah kenapa perasaannya seperti tenggelam dalam indahnya sunset. Padahal di depannya kini terdapat indahnya sunrise.

"Apakah langit juga sama seperti manusia?" Ia bertanya pada dirinya sendiri. Lirih.

"Mungkin iya. Terlihat jelas sekarang contohnya." Kembali ia menjawab sendiri.

Keke beranjak sebentar dari tempat duduknya tadi, mengambil kamera polaroid nya, dan kembali duduk di tepi jendela. Tempat favoritnya.

Jepret!

Keke melihat hasil foto lsg jadi itu. Mengipas sebentar kertasnya. Dan tak lama, jelaslah hasil foto yg baru Keke foto tadi.

"Cuma tetep aja ada bedanya." Keke tersenyum kecil, dan lsg beranjak dr tempatnya tadi.

Ia berhenti di depan papan seperti mading sederhana yg ia buat. Mading yg berisi foto-foto hasil jepretannya. Ia ambil double-tip, dan menempelkannya foto barusan pada mading tsb.

Keke bersuara pelan. "Segimana pun keriangan manusia, ia bisa menangis di balik keriangan tsb. Dan," Keke menarik napas panjang, dan melanjutkan, "langit pun juga bisa seperti itu."

"Ketika sunrise seperti ini, sinar riang matahari msh harus ternodai oleh turunnya hujan. Langit yg bersinar, kenapa harus dibarengi oleh hujan? Bukankah sinar menandakan keriangan & kebahagiaan? Dan bukankah hujan (yg tentunya air) menandakan kesedihan?"

Keke berpaling mengambil foto lain yg tertempel di mading yg sama. Menjajarkan foto yg barusan di foto, dgn foto tsb.

"Manusia. Haruskah keriangan & kebahagiaan nya dinodai oleh kesedihan?"

Keke melanjutkan. "Kalau saat hujan besar saja, kita merasa takut. Lantas apa bedanya dgn tangisan besar? Bukankah seharusnya kita juga takut?"

"Nyatanya, sebaliknya. Saat kita (manusia) menangis mengeluarkan air mata yg deras, kebanyakan pasti malah melanjutkannya. Padahal..." Keke tersenyum dingin. "...kalau hujan deras, pasti kebanyakan kita meminta pd Tuhan utk memberhentikan hujannya."

Keke terus melanjutkan filosofi pemikirannya.

"Harusnya kan kita juga melakukan itu. Dalam hal tangisan manusia tentunya. Lantas, kenapa mesti berbeda?"

"Kenapa kita tdk memperbolehkan langit 'bersedih' dgn deras? Dan lalu kenapa kita malah memperbolehkan manusia (kita) bersedih dgn deras?"

Jegerrr! Sebuah petir berbunyi keras.

Tiba-tiba Keke tersadar satu hal.

"Mungkin sebenarnya, langit memang tidak sama dgn manusia." seru Keke sambil tersenyum.

Dan tangannya merobek foto yg telah lama terpampang di madingnya.

...foto yg berisi gambar dua jenis manusia...

•ZFW• ♥☺

Tidak ada komentar:

Posting Komentar