Kamis, 26 Februari 2015

Kenakan Jaket Saat Berlari Tidak Disarankan, Ini Bahayanya

Ditulis oleh: Zanel Farha Wilda
Dipublikasikan oleh: detikHealth (08 Mei 2014)

========

Lari seakan sudah merupakan salah satu olahraga yang menjadi tren saat ini. Tidak hanya mengenai larinya saja, style untuk berlari bahkan juga bisa dikatakan sedang berada dalam masa trennya di kalangan anak muda. Salah satu style untuk berlari yang saat ini sedang banyak diikuti oleh anak-anak muda adalah dengan menggunakan jaket. Bolehkah lari dengan memakai jaket?

Hal ini diungkapkan oleh dr Hario Tilarso, SpKO, FACSM, dokter spesialis kedokteran olahraga. Menurut dr Hario, penggunaan jaket saat berlari akan menghambat penguapan keringat yang dikeluarkan oleh tubuh pada saat berlari. Padahal penguapan keringat sangat penting untuk terjadi ketika melakukan aktivitas fisik atau pun olahraga, seperti berlari.

"Kalau berlari, berlaku juga pada semua jenis olahraga, gunakan pakaian yang bahannya tidak tebal. Jangan menggunakan bahan wool apalagi jaket. Pakailah bahan yang bisa membantu memudahkan penguapan keringat yang keluar saat berlari. Karena harus diperhatikan bahwa keringat yang keluar itu harus diuapkan," ungkap dr Hario kepada detikHealth saat ditemui pada acara Press Conference Pocari Sweat Run Jakarta 2014 yang diadakan di The Only One Club, fX Lifestyle X'nter, Jl. Jend Sudirman, Jakarta, dan ditulis pada Kamis (8/5/2014).

dr Hario menjelaskan bahwa proses penguapan keringat yang terjadi memang merupakan hal yang penting dan normal untuk tubuh ketika berolahraga. Hal ini disebabkan karena penguapan tersebut akan membantu mendinginkan suhu badan kita yang akan semakin memanas saat kita berolahraga. "Jika tidak ada penguapan, orang bisa terserang cedera. Namanya itu heat injuries," terang dokter yang berpraktik di RS Premier Bintaro ini.

Menurut dr Hario, heat injuries adalah salah satu cedera yang terjadi di dalam tubuh manusia yang disebabkan akibat panas di dalam tubuh. Heat injuries ini akan membuat seseorang pingsan ketika mengalaminya, dan bahkan bisa berakibat fatal, seperti kematian. dr Hario menuturkan bahwa ada beberapa kasus pada orang-orang yang saat berolahraga, tidak terjadi penguapan keringat di tubuh mereka sehingga menyebabkan mereka terkena heat injuries, dan berakhir pada kematian.

"Makanya, jangan deh pakai jaket saat berlari. Kalau ada orang berlari dengan menggunakan jaket dengan alasan ingin menurunkan berat badannya, di siang hari pula, itu tidak benar ya," pesan dr Hario.

Perhatikan 5 Hal Ini Agar Tetap Sehat Saat Traveling

Ditulis oleh: Zanel Farha Wilda
Dipublikasikan oleh: detikHealth (23 April 2014)

========

Kemudahan akses, menjamurnya penawaran paket perjalanan yang terjangkau, serta semakin mudahnya pengajuan izin untuk mengunjungi suatu negara, mempengaruhi peningkatan kunjungan wisata warga negara Indonesia (WNI) ke luar negeri. Namun ingat, jangan asal traveling, sebab risiko terkena penyakit tertentu ada kalanya menghantui.

Ada beberapa hal yang dilakukan agar perjalanan kita ke luar negeri menjadi aman dan juga sehat. Hal ini penting untuk diperhatikan, mengingat berpergian ke luar negeri dapat memberikan risiko tertularnya penyakit-penyakit yang mematikan. Berikut ini adalah 5 hal yang harus dipersiapkan agar dapat bepergian ke luar negeri dengan sehat:

1. Cari Tahu Penyakit yang Mewabah di Negara Tujuan

"Yang pertama yang harus dilakukan adalah dengan mencari tahu lebih dalam mengenai negara yang ingin kita kunjungi. Ketahui apa saja wabah-wabah penyakit yang sedang terjadi di negara tersebut," tutur Trinity, seorang blogger dan travel writer yang dikenal melalui bukunya Naked Traveller, kepada detikHealth saat ditemui pada Peluncuran Kampanye SEHATi Lindungi 'Berwisata dan Belajar dengan Sehat dan Aman di Luar Negeri' yang diselenggarakan di The Only One Club, fX Mall, Jl. Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (23/4/2014)

Trinity yang sudah mengunjungi lebih dari 60 negara di dunia menyatakan bahwa risiko tertular penyakit dari negara-negara yang dikunjungi akan selalu ada. Hal ini disebabkan karena mudahnya penularan yang terjadi pada beberapa penyakit, seperti meningitis, flu, hepatitis A, dan typhoid. Dengan mengetahui wabah apa yang sedang terjadi di negara tujuan, maka kita dapat mempersiapkan diri untuk melakukan hal-hal sebagai upaya dalam mencegah tertular penyakit tersebut.

2. Vaksinasi

Setelah mengetahui apa jenis wabah yang sedang terjadi di negara tujuan, yang dapat dilakukan berikutnya adalah upaya pencegahan. Vaksinasi yang dilakukan untuk penyakit-penyakit seperti meningitis, flu, typhoid, dan hepatitis A kini sudah bisa dilakukan di Indonesia. Dengan melakukan vaksinasi, maka hal itu merupakan salah satu upaya lainnya dalam memproteksi diri kita.

"Pencegahan bisa dilakukan melalui vaksinasi. Penting sekali vaksinasi ini untuk dilakukan. Banyak anak muda yang ke luar negeri, terutama backpacker gitu ya, kan tinggalnya di dorm. Nah penyebaran penyakit akan semakin mudah terjadi,. Misalnya hanya karena bertukar sisirlah," ujar Trinity.

3. Sedia Vitamin dan Obat-obatan

Menurut Trinity, ketahanan tubuh juga menjadi modal utama untuk menjadikan kita berpergian dengan enjoy dan sehat. Trinity mengaku bahwa ia selalu menyediakan vitamin dan obat-obatan yang ia bawa dari rumah. Hal ini diperlukan agar menjadikan daya tahan tubuh tetap kuat selama berpergian dan tidak menganggu wisata kita.

"Vitamin yang paling penting yang saya bawa adalah vitamin C, karena itu kan penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh kan. Dan saya juga biasa membawa obat-obatan dari rumah yang mampu mengobati penyakit-penyakit, seperti flu salah satunya," terangnya.

4. 'Bekali' dengan Asuransi Perjalanan

Asuransi perjalanan kerap kali dianggap enteng oleh para warga negara Indonesia yang hanya ingin berpergian ke luar negeri dalam waktu yang singkat. Padahal menurut Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI, FINASIM dari Divisi Alergi Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, asuransi perjalanan adalah hal yang penting sekali untuk dipersiapkan.

"Selama ini banyak yang menganggap enteng asuransi perjalanan, padahal hal itu penting sekali. Asuransi perjalanan akan membantu memproteksi diri kita selama melakukan perjalanan," ujar dr Iris.

5. Minta Bantuan pada Orang dari Negara yang Sama

Jika kita memang harus terjatuh sakit di negara yang kita kunjungi, Trinity menyarankan untuk mencoba mencari bantuan dari orang yang asal negaranya sama seperti kita. Hal ini dikarenakan kesulitan berbahasa yang kerap kali menjadi masalah selama berada di luar negeri, mengingat ada beberapa negara yang tidak menjadikan Bahasa Inggris, selaku bahas internasional, sebagai bahasa yang 'diizinkan' untuk dipakai sehari-hari di negara tersebut.

"Cari bantuan dari orang yang asal negaranya sama seperti kita. Karena hal itu tentu saja akan memudahkan kita mendapat pertolongan. Biasanya sih saya begitu," tutur Trinity.

Beberapa Orang Muda Malah Meninggal Usai Olahraga, Apa Sebabnya?

Ditulis oleh: Zanel Farha Wilda
Dipublikasikan oleh: detikHealth (02 April 2014)

========

Usia belum lagi 45 tahun, yang artinya masih dalam kategori usia produktif, tidak merokok, dan hobi olahraga, namun malah meninggal pada saat atau usia olahraga. Apa penyebabnya?

"Pengertian 'muda' yang disepakati untuk dunia olahraga adalah kelompok atlet usia di bawah 35 tahun. Statistik di Amerika menunjukkan kejadian 1 di antara 15.000 pelari joging dan 1 di antara 50.000 pelari maraton. Pada populasi ini di kepustakaan disebutkan bahwa penyebab kematian mendadak pada kelompok atlet ini adalah segi struktur anatomis jantung atau gangguan irama, baik sebagai kondisi bawaan, keturunan, infeksi atau radang," papar dr Kasim Rasjidi, SpPD-KKV, DTM&H, MCTM, MHA, SpJP, LMPNLP, ELT, CCH.

Dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (2/4/2014), dokter yang berpraktik di RS Asri Jakarta, mengatakan pada populasi umum, penyebab yang mendasari hal ini sama dengan faktor risiko ketidaknyamanan kardiovaskular lainnya. Dia juga mengingatkan soal rokok yang pernah dikonsumsi yang bersangkutan di masa lalu.

"Dari pengalaman saya di bidang intervensi jantung dan pembuluh darah lain seperti otak dan tungkai, pola penyempitan pembuluh akibat rokok dan diabetes lebih rumit dan sulit ditangani. Ada asumsi ahli bahwa atlet pria lebih semangat dalam berolahraga sementara kondisi hormonal yang belum menopause pada atlet wanita melindunginya dari faktor kematian akibat kardiovaskular," tutur dr Kasim.

Penyumbatan pembuluh darah jantung akan menyebabkan terputusnya asupan nutrisi dan oksigen ke area jantung teritori sehingga tidak dapat memompa dengan efisien. Gangguan irama yang fatal menyebabkan jantung tidak dapat memompa dengan efisien, sehingga hasil akhirnya adalah terputusnya asupan ke area yang seharusnya mendapatkan oksigen, yang mana efek kritisnya adalah otak.

"Organ sebesar 2 kepal tangan kita adalah kolaborasi 1 triliun sel yang perlu energi 20-40 persen dari total energi yang kita perlukan dan harus terjaga kontinuitasnya," ucap dr Kasim.

Dihubungi terpisah, Prof Dr dr Budhi Setianto, SpJP, FIHA dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, mengatakan bila ada atlet yang meninggal mendadak akibat sakit jantung maka perlu dilihat usianya. Jika umurnya di atas 35 tahun kemungkinan diakibatkan serangan jantung di usia muda.

"Hati-hati ya, karena serangan jantung di usia muda ini lalu meninggal atau stroke misalnya, hal tersebut bisa memberikan anak-anaknya riwayat keluarga dalam kematian usia muda yang disebabkan serangan jantung. Namun jika terjadinya pada usia di bawah 35 tahun, itu bisa jadi karena penebalan otot jantung yang terjadi ketika bayi atau usia anak-anak," terang Prof Budhi.

Bila masalahnya adalah penebalan otot jantung, maka penebalan ini terjadi saat seseorang beraktivitas. Misalnya saja seorang pemain sepakbola, di mana dirinya akan berlari ke sana ke mari sepanjang pertandingan berlangsung. Nah, pada saat berlari itulah otot jantungnya akan semakin menebal.

"Dan karena jantung menebal inilah makanya menjadi rawan terjadi distrimia dan kematian mendadak. Keadaan seperti ini biasanya disebut hypertrohpic cardiomyopathy atau HOCM," ucap Prof Budhi.

Dikutip dari American Heart Association, hypertrophic cardiomyopathy adalah suatu kondisi yang dapat terjadi pada usia berapa saja. Biasanya HOCM inilah yang menyebabkan kematian mendadak pada usia muda, termasuk para atlet-atlet muda. Sekitar 1 dari 500 orang disebutkan mempunyai HOCM ini, di mana dapat terjadi pada pria maupun wanita.

HOCM ini terjadi jika otot jantung tidak tumbuh secara normal atau menebal. Umumnya memang terjadi pada seseorang saat masih bayi dan usia kanak-kanak. HOCM mempengaruhi kerja jantung dalam mengantarkan darah ke tubuh. Sayangnya, orang yang terkena HOCM ini tidak mengalami gejala-gejala yang dapat terlihat secara signifikan. Sehingga orang dengan HOCM tampaknya hidup seperti orang sehat lainnya.

Bukannya Menyenangkan, Nonton Bola Seperti Ini Justru Bikin Badan 'Ambruk'

Ditulis oleh: Zanel Farha Wilda
Dipublikasikan oleh: detikHealth (02 April 2014)

========

Menyaksikan pertandingan sepak bola memang menjadi momen yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Apalagi jika yang sedang berduel di lapangan adalah tim favorit. Eits tapi hati-hati, nonton bola yang tak direncanakan dengan baik justru bisa membuat tubuh ambruk alias sakit lho.

Dokter kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja, mengingatkan jika ingin begadang nonton bola, tetap perhatikan jam tidur dan jangan pernah bergantung pada kafein, misalny kopi. Sebaiknya hitung jam terlebih dulu saat akan mengonsumsi kopi sebagai persiapan begadang.

"Kafein itu kan efeknya 9-12 jam. Jadi misalnya ingin menonton bola jam satu, jangan minum kopi pas udah mulai ngantuk atau satu jam sebelumnya," terang dr Andreas saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (2/4/2014).

Waktu meminum kopi perlu diperhatikan karena nanti saat ada waktu tidur, efek kafein pada kopi masih bekerja sehingga mata justru tak bisa terpejam padahal keesokan harinya harus bekerja. Sehingga, dr Andreas menyarankan minumlah kopi saat sore hari dan jangan pernah minum kopi di siang hari setelah malam sebelumnya Anda begadang. Justru, Anda tidak akan bisa tidur pada malam hari setelah bekerja, padahal kondisi tubuh sedang sangat lelah.

"Biasakan tidur sesuai kebutuhan. Misalnya bisa tidur sampai siang hingga 12-13 jam, ya tidak apa-apa, malah bagus karena kebutuhan tidur terpenuhi. Mumpung masih muda, tidur 'kebo' tidak apa-apa asal jangan terlalu sering juga karena bisa menganggu produktivitas," papar dr Andreas.

Dihubungi terpisah, dr Kasim Rasjidi, SpPD-KKV, DTM&H, MCTM, MHA, SpJP, LMPNLP, ELT, CCH dari RS Asri Jakarta, mengatakan melibatkan perasaan pada saat nonton bola akan memacu gejolak emosi, baik senang, kesal, gemas, atau marah.

"Emosi ini mempengaruhi produksi dan aliran hormon di diri orang tersebut. Perannya sebagai pemicu serangan jantung sangat individual karena latar belakang dan keseharian setiap orang itu sejatinya unik dan beda," kata dr Kasim.

Ini Salah Satu Alasan Mengapa Wanita Tak Boleh Kerja Terlalu Berat dan Lama

Ditulis oleh: Zanel Farha Wilda
Dipublikasikan oleh: detikHealth (24 Maret 2014)

=========

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya disfungsi dasar panggul. Salah satunya adalah gaya hidup. Secara tidak sadar, manusia kerap kurang memperhatikan pada bagaimana gaya hidup mereka hingga akhirnya berisiko pada penyakit-penyakit yang dapat dialami.

Hal ini diungkapkan langsung oleh dr M.S. Nadir Chan, SpOG(K), dokter spesialis uroginekologi lainnya di RSIA YKP Mandiri, Jakarta Pusat. Menurut dokter yang akrab disapa dr Nadir ini, salah satu faktor risiko disfungsi dasar panggul disebabkan oleh gaya hidup.

"Disfungsi dasar panggul itu disebabkan oleh banyak faktor, seperti anatomi, fisiologi, genetik, hingga gaya hidup yang secara tidak sadar juga dapat mempengaruhi," ujar dr Nadir saat ditemui pada acara seremonial dan press conference pembukaan Klinik Uroginekologi RSIA YPK MANDIRI yang dilangsungkan di Graha Mandiri, Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Senin (24/3/2014).

Lantas, gaya hidup seperti apa yang dapat berrisiko menyebabkan terjadinya disfungsi dasar panggul? Dr. dr. Budi Imam Santoso, SpOG(K), seorang dokter spesialis uroginekologi lainnya di RSIA YKP Mandiri menuturkan bahwa salah satu yang menyebabkannya adalah gaya hidup wanita dalam bekerja dan beraktivitas.

"Kerusakan panggul itu dapat dipengaruhi pada wanita-wanita yang bekerja terlalu berat dan lama. Apalagi kalau wanita tersebut sudah berkali-kali melahirkan," ungkap dr Budi kepada detikHealth.

Tidak hanya itu saja, dr Budi juga menambahkan bahwa banyaknya wanita yang terlalu gemuk dan jarang melakukan olahraga juga bisa menyebabkan disfungsi dasar panggul.

dr. Fernandi Moegni, SpOG (K) mengungkapkan bahwa penting bagi wanita untuk memerhatikan bagaimana gaya hidup mereka. Ia menyarankan sebaiknya wanita menghindari aktivitas-aktivitas yang secara tidak langsung membuat mereka 'mengedan' dalam melakukannya.

"Secara tidak sadar, orang kan pasti akan mengedan apabila melakukan aktivitas berat, seperti mengangkat barang. Nah usahakan jangan melakukan itu. Kan bisa misalnya menggunakan troli untuk menariknya," tutur dr Fernandi yang merupakan dokter di RS Royal Progress, Sunter.

Selain itu, dr Fernandi juga menyarankan supaya wanita lebih sering mengonsumsi sayur dan buah sehingga bisa menghindari sembelit dan menjaga berat badan agar tidak berlebihan.

"Karena kan kalau sembelit, orang pasti akan mengedan lebih keras dan lama. Itu tidak boleh," imbuhnya.

Tidak Hanya Fisik, Olahraga Juga Bermanfaat Secara Psikis Lho

Ditulis oleh: Zanel Farha Wilda
Dipublikasikan oleh: detikHealth (23 Februari 2014)

==========

Banyak orang yang menjadikan olahraga sebagai cara untuk membantu mereka dalam menjaga kesehatan tubuh hingga menurunkan berat badan. Namun, tahukah Anda bahwa ternyata olahraga tidak hanya memberikan manfaat fisik, melainkan juga memberikan manfaat psikis?

Hal ini diungkapkan langsung oleh Ninit Yunita, seorang penulis dan pelari. Ninit mengungkapkan bahwa ketika ia selesai berlari, maka ia merasa menjadi lebih bahagia.

Ninit bercerita, awalnya dia bukanlah orang yang gemar olahraga. Ninit mengakui bahwa dulunya ia menganggap tidak penting untuk berolahraga, terlebih lagi ia tidak mempunyai masalah dengan berat badan ataupun mendapat penyakit yang sampai mengharuskan ia untuk berolahraga.

Namun karena saran dari suami, akhirnya Ninit mulai memikirkan untuk berolahraga. Dan pada awalnya, suami menyarankan Ninit untuk pergi ke gym. Tetapi karena Ninit merasa gym itu memerlukan banyak waktu, makanya Ninit lebih memilih untuk olahraga lari.

"Awalnya sih karena diajakin tetangga untuk ikut dalam event lomba lari yang diadakan suatu komunitas lari. Pada saat itu larinya untuk 3 km. Alhamdulillah saya sampai finish dan saya senang sekali setelahnya," tutur Ninit ketika menghadiri acara Pocari Sweat Conference 2014 "Aktivitas Fisik Membuat Tubuh Bugar dan Menarik", dan ditulis pada Minggu (23/2/2014).

Semenjak saat itu, Ninit mulai aktif untuk ikut dalam event lomba lari. Biasanya Ninit berlari sebanyak 3 kali dalam seminggu. Ninit pun juga sering lari pagi di area Car Free Day Sudirman yang diadakan setiap weekend pagi.

"Setelah berlari, entah mengapa saya lebih merasa senang ya. Saya merasa saya menjadi lebih menghargai proses," ujar Ninit yang ternyata baru mulai menekuni larinya dalam 2 tahun terakhir ini.

Rasa bahagia yang dirasakan Ninit setelah berlari, disebutkan dr. Ermita I. Ilyas, Ms, AIFO sebagai manfaat yang memang ditimbulkan karena olahraga. dr. Ermita mengungkapkan karena itulah setiap orang butuh olahraga.

"Olahraga itu banyak manfaatnya. Selain membantu meningkatkan daya tahan jantung dan stamina, mengurangi lemak tubuh, olahraga juga dapat mengurangi stres lho. Karena itulah makanya dapat membuat rasa bahagia," ungkap dr. Ermita yang juga hadir pada acara yang dilangsungkan di Gran Melia Hotel, Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan ini.

dr Lula Kamal yang menjadi moderator pada acara tersebut juga menyatakan bahwa olahraga mengandung endorfin sehingga memberikan efek kebahagiaan. "Makanya jadi tidak perlu tuh merokok atau bahkan pakai narkoba. Cukup dengan olahraga, kalian juga akan merasa bahagia kok. Jadikan olahraga sebagai bagian dari hidup Anda," saran dr Lula.