Sabtu, 13 April 2013

"Let Me Find The Answer"

“Kayaknya gue kemaren ketemu Rama deh, Jen.” seru Alina tiba-tiba.

Dan ucapannya sukses membuat Jenar menoleh dengan cukup excited. “Hah, serius? Dimana?”

“Di Kalimilk. Kayaknya sih itu emang dia.”

“Dia sama siapa? Ceweknya?” Suara Jenar berubah sedih.

Alina menoleh ke sahabat disebelahnya. Menyadari perubahan suara itu. “Nggak kok. Sama temen-temennya sih gue liat. Rame gitu, cowok-cowok semua.”

Perubahan di raut muka Jenar terlihat lebih cerah. Bahkan terlihat sedikit senyum di wajah Indo-nya.

Alina memandang sahabatnya. Tatapannya berubah serius. “Sampe kapan lo mau nunggu Rama kayak gini, Jen?”

Jenar menyadari nada pertanyaan Alina yang terdengar serius. Sama seperti nada yang ia dengar setiap sahabatnya di Bandung, Gia, bertanya hal yang sama seperti ini. “Kenapa emangnya, Al?”

Alina berpikir sesaat, seperti tengah mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Jenar. Ia ingin membuat Jenar –menyadarkannya agar tidak terus-terusan berharap pada Rama. Namun ia tidak ingin perkataannya malah akan menyakiti hati Jenar.

“Nggak papa. Cuma selalu amaze aja, lo bisa segininya nungguin Rama hehe. Udah berapa tahun deh, Jen?”

Jenar nyengir mendengarnya. “Dari SMP kelas 2 pas gue umur 13 tahun. Jadi udah berapa lama tuh? Hahaha.”

“Sekarang lo mau 21 tahun kan? Jadi udah hmm... 8 tahun?!!? Gila!” Alina jadi takjub sendiri. Nggak menyangka Jenar sukses bertahan menyayangi Rama selama itu. Bahkan Rama nya aja nggak tau!

“Gue obses ya, Al?” Tanpa disangka, Jenar mengeluarkan pertanyaan yang sukses membuat Alina bingung harus menjawab apa.

“Ngg...”

“Jawab aja yang jujur, Al. Gue butuh pendapat yang realistis kali ini.” Jenar memotong dingin. Namun terselip nada sedih di dalamnya.

“Gini ya, Jen. Perasaan yang lo rasain sekarang ke Rama gimana? Maksudnya, menurut dari sudut pandang lo sendiri ya.” Alina memulai dengan hati-hati. Ia tidak ingin Jenar salah mengambil persepsi.

“Gue pikir, gue sayang sama Rama, Al. 8 tahun gue nyimpen rasa ini, dan ini udah cukup membuat gue yakin kalo gue emang udah sayang sama dia. Bahkan jauh dari sebelum ini. That’s I feel now.” Jenar menatap sahabatnya. Di matanya terlihat sebuah keyakinan.

“Lo pernah ngebayangin nggak, kalo pada akhirnya lo bisa ketemu Rama lagi, lo bakal ngelakuin apa?”

Di luar dugaan Alina, Jenar malah tersenyum sedih. “Nggak tau, Al. Gue pernah ngebayangin itu, namun yang keluar malah abstrak. Gue terlalu takut untuk ngebayangin itu. Gue takut semuanya bakal cuma harapan semu gue semata.”

“Terlalu banyak yang ingin gue lakukan kalo gue ketemu dia nanti.”

Alina mengangguk. Ia bisa merasakan bahwa Jenar benar-benar menyayangi Rama. Alina yakin itu. Namun tetap saja ada satu hal yang membuat Alina tidak yakin.

Apakah Rama memang akan menjadi kebahagiaaan untuk Jenar?

“Mungkin lo, Gia, atau yang lainnya yang tau masalah ini, ngeliat gue segitu yakinnya, segitu optimisnya dengan Rama. Mungkin kalian bener, karena gue juga ngerasa begitu. Tadinya.” Suara Jenar memecahkan keheningan.

Alina mengernyitkan keningnya. “Tadinya? Maksudnya sekarang udah enggak?”

Jenar mengalihkan pandangan ke jendela di samping kirinya. Terlihat butir butir air yang menempel di kaca mobil. Tertanda di luar sedang gerimis. Jenar menghela nafas. Nafasnya terdengar berat, seakan-akan ini pertama kalinya ia akan mengeluarkan pernyataan yang tidak pernah ia keluarkan sebelumnya. Yang berusaha ia tahan sejak tadi. Yang ia sembunyikan.

“Setelah gue sampai di stasiun Tugu tadi, entah kenapa gue ngerasa gue nggak akan mendapatkan apa yang sudah lama gue impikan selama ini disini. Gue ngerasa... kedatangan gue ke Jogja, keputusan gue tinggal di Jogja, tidak akan merubah keadaan apa pun antara gue sama dia.” Jenar tertunduk. “Mungkin kaget ya, denger seorang Jenar yang selama ini selalu sabar dan positif thinking, bahkan cenderung dingin dan nggak mempedulikan pendapat kalian semua, tiba-tiba berkata seperti ini.”

Mendengarnya, Alina hanya bisa menganga’. Tidak menyangka sama sekali Jenar akan berkata seperti ini.

“Terus sekarang lo mau gimana? Mau pulang lagi ke Bandung atau Jakarta gitu?” Hanya itu respon yang sanggup Alina berikan saat ini.

“Enggak.” Jenar mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Alina. “Gue sadar, ada sesuatu yang memang sudah menakdirkan gue untuk tinggal di Jogja. Allah sudah menakdirkan itu buat gue. Walaupun itu mungkin bukan takdir Rama untuk gue. Tapi entah kenapa gue yakin itu. Ada suatu kebahagiaan yang Allah takdirkan untuk gue disini. Di Jogja.”

“Jadi lo udah nggak bakal berjuang lagi untuk ketemu Rama dan menjelaskan apa yang selama ini lo udah persiapkan?”

Jenar menatap Alina dalam. “Nggak gitu juga. Gue akan tetap berusaha untuk ketemu Rama, sekalian mencari tau apakah yang selama ini gue rasakan itu cuma rasa penasaran atau emang bener-bener sayang.”

“Setidaknya biarkan gue menemukan jawaban yang benar-benar bisa membuat gue keluar dari godaan masa lalu ini, Al. Let me find the answer.”

----------

(sepotong kisah dari One Temptation)


- ZFW | 2013 -

Selasa, 02 April 2013

"It's Only With The Heart That One Can See Rightly"


"Oh jadi gitu."

Jenar menatap cowok disampingnya dengan pandangan bercampur aduk, antara sedih namun juga jengkel. "Kamu dengerin aku nggak sih?"

"Kalo aku nggak dengerin kamu, ngapain aku daritadi masih disini?"

Geez. Ini orang cepet banget sih berubahnya. Perasaan tadi lembut, kenapa sekarang jadi galak dan ngeselin lagi. Susah emang kalo udah tabiat.

Jenar dan Bayu terduduk di atas pasir putih dengan hamparan laut luas di depannya. Sekitar mereka begitu sepi, hampir tidak terlihat orang sama sekali. Keadaan ini persis saat mereka berdua berada di pantai hari Minggu lalu. Pantai yang berbeda walau dengan orang yang sama.

"Kamu terlalu berlebihan." ucap Bayu tiba-tiba. Memecah keheningan yang ada.

Jenar melongo. Nggak nyangka kalo cowok galak nan dingin ini akan merespon ceritanya barusan. Tapi sayangnya Jenar malah nggak ngerti akan respon tiba-tiba Bayu tersebut.

"For what?"

"For all that you did so far." jawab Bayu. Nadanya berubah menjadi serius. Serius tatapannya ke arah laut yang ada di depannya. Begitu lurus dan tajam.

"Aku hanya mendengar apa yang telah hatiku katakan. That's it."

"So, what is it?"

Kalau Gia, Alina, atau siapa pun yang bertanya seperti ini, pasti Jenar akan segera meneriaki mereka yang inign tahu saja. Tapi entah kenapa, pada Bayu, ia tidak ingin melakukan itu. Ia hanya ingin berkata yang sejujurnya pada cowok ini.

"Rama." jawab Jenar singkat. Tanpa disadari, ia malah tertunduk malu. Menahan air matanya yang sepertinya ingin mengalir lagi.

"Kalau gitu selama ini kamu salah dalam mengartikan apa yang hati kamu katakan."

Jenar berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia kembali menatap Bayu disampingnya. Ia tidak mengerti apa yang cowok ini ucapkan barusan.

Bayu melirik ke arah Jenar yang sedang menatapnya dengan tampang setengah pongonya. Tipikal Jenar yang menunjukkan kalau ia sedang tidak mengerti atas apa yang barusan cewek ini dengar.

Yang sejujurnya merupakan tatapan yang begitu Bayu sukai dari wajah tegas cewek ini.

"Kenapa masang tampang seperti itu? Nggak ngerti?" tanya Bayu dengan nada nyeleneh.

Jenar mendengus. Lagi-lagi Bayu kumat sikap ngeselinnya.

"Hati nggak akan pernah mengatakan apa yang akan menyakiti diri kita. Tapi hati juga nggak pernah mengatakan secara jelas apa yang terbaik untuk kita. Hati akan membiarkan kita mencari semua itu sendiri, namun dengan tetap mengikuti petunjuk darinya."

Bayu melanjutkan. "Hati melihat apa yang tidak terlihat oleh mata."

Jenar terperangah mendengar setiap kalimat yang diucapkan Bayu. Tidak pernah ia menyangka seorang Bayu yang dikenalnya begitu jutek, dingin, galak, dan ketus, akan berkata-kata quotable seperti barusan.

Dan Jenar baru ngeh. Apa yang Bayu ucapkan terakhir, mengingatkannya pada sebuah quote.

"It's only with the heart that one can see rightly. What is essential is invisible to the eye."

"It's only with the heart that one can see rightly. What is essential is invisible to the eye..."

Jenar dan Bayu menoleh bersamaan. Keduanya berpandangan sesaat.

Sampai akhirnya Bayu duluan yang melepaskan pandangan 3 detik itu. "Kamu tau juga quote itu?"

Jenar mengangguk. Mendadak ia menjadi sedih kembali. Ia tahu quote itu dari Rama. Rama pernah memberi tahunya tentang kutipan indah itu. Kutipan yang selalu ada dalam benak Jenar.

"Tapi aku nggak tahu dari mana awalnya quote itu. Siapa yang buat, aku nggak tahu."

"Aneh." serunya dengan nada nyeleneh. Tipikal Bayu yang ngeselin bagi Jenar. "Itu adalah quote di Le Petit Prince, sebuah novel yang lebih dikenal dengan nama The Little Prince." tambah Bayu seraya menjelaskan tanpa diminta.

"Oh." Jenar mengangguk-angguk. "Tapi aku masih nggak ngerti, kenapa kamu bilang aku salah dalam mengartikan apa yang hati aku katakan saat aku bilang hatiku mengatakan Rama?" Jenar kembali pada topik semula. Ingin menuntaskan rasa yang masih terus berada di benaknya.

Bayu terdiam sesaat. "Selama ini dengan apa kamu melihat?

"Mata."

"Pernahkah kamu membiarkan ada hal lain yang membantu mata kamu untuk 'melihat'?"

"Yang namanya melihat itu pasti pake' mata lah Bay."

"Lalu apa yang kamu tangkap dari mata kamu selama ini? Untuk hati kamu."

Jenar berpikir sesaat. "Hmm... Rama."

"Pernahkah kamu membiarkan mata kamu melihat ada yang lain selain dia?"

"Nggak ada yang bisa membuat aku melihat yang lain untuk hati aku kecuali Rama, Bay." jawab Jenar yakin.

Bayu menatap Jenar dalam. "Itulah alasannya. Kamu tidak membiarkan ada hal lain yang melihat ke luar. Selama ini kamu hanya memperbolehkan kedua mata kamu yang melihat ke luar. Dan tanpa sadar kamu paksakan itu ke dalam hati kamu. Seakan semuanya sudah menutup celah untuk hati kamu. Menutup kesempatan untuk hati kamu melihat ke luar dan mengatakan apa yang sebenarnya terbaik untuk kamu."

"Tapi mungkin kamu nggak salah apabila selama ini menganggap hati kamu hanya mengatakan Rama. Karena selama ini memang tidak mudah mengerti atas semua yang hati katakan. Yang hati katakan memang tidak yang seindah kita harapkan. Biasanya. Tapi pasti itu yang terbaik untuk kita nantinya."

Bukannya merespon atas ucapan filosofi sederhana Bayu barusan, Jenar malah menatap Bayu penuh tanda tanya. "Apakah selama ini kamu udah mendengarkan semua yang hati kamu katakan, Bay?"

-------------

Ini adalah sepotong kisah dari proyek saya yang berikutnya; One Temptation.
Will be coming soon. Aamiin ♥☺


• ZFW | 2013 •