Senin, 17 September 2012

Writer Soon To Be (part one)

"As a writer, you have to prepare something outstanding of you." -- Anonymous


Sebagai writer soon to be, tujuan utama setiap writer soon to be itu bukanlah keuntungan yang bersifat komersil, melainkan keuntungan publikasi. Keuntungan publikasi itu sangatlah penting sebagai langkah awal pengenalan karya setiap penulis baru. As we said, "batu loncatan". Untuk sementara, gak perlu kita menghitung honor yang harusnya kita dapatkan dari karya kita. Karena sebagai penulis baru, hal itu emang terlalu 'tinggi'. Yang penting adalah bagaimana cara menjadi seorang penulis yang 'sebenarnya'. Karena kalau kita sudah menjadi penulis yang 'sebenarnya', kita akan mendapat yang 'seharusnya'.

Dan penting bagi seorang writer soon to be mempunyai jati diri. Jati diri sebagai penulis bisa mewakili seperti apa karya-karya penulis itu. Tapi itu emang bukanlah hal yang mudah. Penulis yang udah handal aja masih banyak yang mencari 'jati diri'-nya seperti apa. Karena emang itu adalah sebuah keharusan.

Writer soon to be mungkin juga penting mempunyai 'role model' untu, dijadikan panutannya dalam mengembangkan karyanya. Butuh contoh yang inspriratif adalah hal yang wajar bagi setiap orang, begitu juga writer soon to be. Banyak penulis handal dan pintar di dunia ini, bahkan di Indonesia. Namun tidak semua bisa menjadi 'role model' setiap writer soon to be.

Writer soon to be punya 'penilaian' dan kriteria sendiri terhadap penulis mana yang pantas dijadikan panutannya. Inilah yang namanya selera. Inilah yang namanya kerelatifan. Hal yang tidak bisa dipaksakan. Dan sepertinya kerelatifan memang bukan hal yang bisa dipisahkan dari dunia penulis. Karena penulis akan berhadapan dengan kerelatifan itu. Itu pasti. Relatif dan penilaian seperti hal yang tidak bisa dipisahkan dalam dunia setiap penulis. Karena setiap karya penulis akan dinilai dengan kerelatifan itu.

Dan perlu kita ingat. Ketika kita menganggap seseorang sebagai 'role model', berarti kita berharap kita bisa mencapai level 'role model' kita tersebut. Bahkan semoga saja bisa melebihi kan hehe :D


-to be continued-


"No matter happens, no matter how far you seem to be away from where you want to be,  never stop believing that you will somehow make it."





Rabu, 12 September 2012

Being: Liverpool

Setelah sukses dengan film "Will; You'll Never Walk Alone", kali ini Liverpool kembali membuat film lainnya. Namun bedanya, film yang dibuat kali ini ialah tentang film dokumenter. Film dokumenter ini menceritakan tentang...Liverpool.

Being Liverpool adalah sebuah film dokumenter dari Amerika Serikat yang disebut-sebut sebagai pertama kalinya di dunia yang memfokuskan segalanya pada apa yang terjadi dengan Liverpool, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Di dalam film ini, tentu saja terdapat para pemain, staff, dan segalanya yang terlibat dalam Liverpool. Bahkan rekaman saat fans Liverpool (Liverpudlian/Kopites) menonton pertandingan Liverpool juga ada di film dokumenter ini. Selain itu, Brendan Rodgers jelas menjadi salah satu bintangnya. Kru kamera mengikutinya sepanjang apapun yang ia lakukan untuk Liverpool, nyaris dari hari pertama ia menginjakkan kaki di Anfield.

Bagian pertama ini (berdasarkan yang saya baca dari www.supersoccer.co.id) dimulai dengan mood yang cukup membuat para penontonnya bernostalgia dengan apa yang terjadi musim lalu, yaitu tentang hari-hari terakhir King Kenny di Liverpool sampai tentang kegagalan Liverpool merengkuh gelar Piala FA (dimana padahal itu bisa menjadi gelar kedua musim lalu).

Dokumenter ini dibagi menjadi enam bagian. Dan film ini akan ditayangkan di Amerika Serikat mulai hari Minggu mendatang (16 September 2012).

Penasaran seperti apa, lads?

Here's the trailer:




Being Liverpool...are you?
#YNWA


"Everybody Needs Second Chance. Start Now and Make A New End."


(sepotong cerita dari: "Three Things")

♥☺

Bia mengusap air matanya yang menitik. Bia kembali mengingat memori masa lalu nya yang sangat kelam. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kejadian itu masih berefek sedihnya sampai sekarang. Bahkan sampai Bia sudah mempunyai mantan pun, ia masih sangat ingat jelas isi dari sms Tian dulu. Walaupun sms itu sudah tidak ada di telepon genggamnya. Mungkin ini karena Bia sudah berganti telepon genggam, tapi jika telepon genggamnya masih yang dulu, ia yakin sms itu akan selalu Bia simpan.

“Bi, pasti lo nyesel banget ya? Gue juga nggak bisa ngasih jalan keluarnya kalo bahkan lo udah lama banget nggak ketemu sama Tiannya.” Bunga membuka pembicaraan saat Bia menyudahi ceritanya dan keheningan yang terjadi di antara mereka.

Bia mengangguk sedih. “Banget, Bung. Kalo gue bisa ngulang waktu ke masa lalu, gue pengen banget. Gue bener-bener nyesel sama sikap bodoh gue dulu. Bahkan gue jadi merasa, seharusnya gue nggak usah ketemu Tian hari ini. Atau kemaren, gue nggak usah inget Tian tiba-tiba. Semua ini tuh pas banget. Saat gue yang tiba-tiba inget Tian, eh Allah malah mempertemukan gue sama Tian hari ini. Walaupun dari jauh.”

“Mungkin jodoh tuh Bi!” Evan mencoba ber-intermezzo.

Mendengar itu, Bunga melotot ke arah Evan. Bunga berpikir kalo Evan malah tidak ikutan merasa sedih. Sedangkan Bia hanya tersenyum sedih ke arah Evan. “Jodoh? If only.” ucap Bia lirih.

“Gini Bi, mungkin ini emang cobaan dari Allah. Atau mungkin juga ini pengabulan doa lo yang lama oleh Allah karena Allah pengen ngasih hadiah yang tepat buat lo. Dulu pas SMA, lo pengen banget kan ketemu sama dia dan minta maaf langsung? Ini saatnya, Bi. Allah dulu menunda harapan lo, dan mungkin sekarang Allah merasa waktu yang tepat buat ngabulin ini,” Evan mengungkapkan pendapatnya.  Ia pun kembali melanjutkan, “dan seharusnya lo bersyukur. Ini saat lo untuk minta maaf langsung sama dia. Kalo lo dulu berharap gitu, tunjukkin dong Bi!”

Bunga setuju sekali dengan pendapat dan nasihat Evan itu. Namun ia merasa ini bukan saat yang tepat untuk menyuruh Bia melakukan permintaan maafnya langsung kepada Tian. “Nggak bisa sekarang gitulah, Van. Ini tuh nggak semudah yang lo pikir. Tian tuh bukan kayak cewek-cewek lo yang gampang banget maafin orang setelah di boongin.” sindir Bunga kepada Evan.

Bia pun sedikit tersenyum mendengar sindiran Bunga itu. Setidaknya ada sedikit candaan yang keluar dari kedua sahabatnya. “Evan bener, Bung. Gue harus melakukan harapan dan janji gue dulu. Tian sekarang ada di Jakarta, berarti nggak susah buat gue ketemu langsung sama dia lagi. Tapi mungkin nggak sekarang, Van. Gue belom siap. Setiap ingin melakukan sesuatu, butuh niat dan kesiapan dari hati kan? Lagipula gue juga nggak tau kapan dan apa bisa ketemu dia lagi.”

Evan menarik napasnya panjang. “Ya nggak sekarang juga nggak papa, Bi. Setidaknya lo janji mau berbuat itu, dan harus dilaksanain. Apalagi ini juga buat kebaikan lo. Kali aja, masalah ini selesai dengan baik dan Tian mau maafin lo. Everybody needs second chance. At least, itulah yang gue tau. Karena kalo tanpa ada kesempatan kedua, hidup itu sama sekali datar. Inget, life is about the choice. Dan bagi gue, kesempatan itu juga merupakan sebuah pilihan. Gue dan Bunga selalu doain lo punya kesempatan itu dan Tian masih punya pilihan buat maafin lo. Iya kan Bung?” seru Evan sambil tersenyum sportif dan menenangkan.

“Iya betul, Bi! Tenang aja, Tian itu pasti juga ngerasa dia bukan manusia sempurna. Seharusnya sih seperti itu kalo dia bener-bener laki-laki baik. Oh iya, lagipula sekarang lo udah berubah kan? Tian harus ngeliat itu dan dia harus tau kalo Bia, Indonesian next top dancer, masih menunggu dan menyayangi dia dengan saaaaaaangat tulus sampe sekarang! Kalo lo nggak mau ketemu dan ngobrol sama dia, gimana dia bisa tau? Semua itu bermula dari keberanian lo, Bi. Gue yakin lo bisa kok. Oke?” Bunga memeluk tubuh ramping Bia dengan hangat dan bersahabat.

“Heh siapa bilang gue masih sayang sama dia ya! Hahaha. Anyway, makasih ya guys. Gue terima banget nasihat-nasihat dari kalian berdua.” balas Bia sambil mencium pipi Bunga dan Evan, brotherly.

Evan pun sedikit blushing mendapat perlakuan kontak fisik dengan Bia, yang sebelumnya tidak pernah ada. “You’re welcome, Bia sayang. Eh ya, lo jangan pernah berpikir ‘coba aja gue bisa kembali ke masa lalu’,” ucap Evan sambil menjentikkan kedua tangannya sebagai tanda kutip,”karena, lo inget nggak quote yang lo pernah kasih tau gue pas gue ngomong kayak lo gitu? We can’t go back and make a new start, but we can start now and make a new end! Remember it dear?

Bia tersenyum mendapati itu. “Surely yes! He eh, lo bener Van. Makasih ya udah di ingetin.

“Itu quote darimana sih Bi? Bagus deh kalimatnya. Pengarangnya siapa?” tanya Bunga penasaran. Ia tau Bia penyuka segala macam quote.

“Gue nggak tau pengarangnya siapa, tapi gue tau dari seseorang.” balas Bia sambil tersenyum nakal.

“Siapa?” tanya Bunga dan Evan berbarengan.

Bia kembali tersenyum nakal, “Bastian Putra Arlanda…”


•ZFW• ♥☺

Rabu, 29 Agustus 2012

Two Birds; The Choice & The Risk

"Life is about the choice..."

Tentunya kita udah sering denger kalimat seperti itu. Entah itu di film, novel, ataupun kegiatan sehari-hari. Kenapa?

Karena itu memang benar adanya.

Kenapa harus pilihan? Kenapa bukan yang lain?

Karena pilihan lah yang selalu manusia temui di dalam hidupnya.

Pilihan sudah seperti 'nyawa' dalam kehidupan manusia. Dimana pun manusia itu berada, kapan pun, atau bagaimana pun, manusia selalu diikuti oleh setiap pilihan. Baik itu pilihan yang baik, buruk, atau membingungkan sekali pun.

Memilih bukan hal yang mudah. Memilih tidak boleh sembarangan. Memilih harus penuh dengan perhitungan. Perhitungan setiap apa yang akan terjadinya setelahnya.

Namun saya rasa bukan cuma pilihan yang akan kita temui -yang selalu kita temui. Masih ada yang lain.

Resiko.

Iya, resiko. Hidup pasti selalu ada resiko.

"Life is about the risk..."

Kenapa resiko?

Itulah hidup.

Pilihan dan resiko. Seperti dua hal yang tidak bisa dilepaskan dari hidup.

Lalu?


"Life without a risk is a life unlived."

----------Two Birds; The Choice & The Risk----------


·ZFW·

Selasa, 28 Agustus 2012

"You Can Hide, But You Cannot Run"

(sepotong cerita dari "Two Birds")

♬☀♬

Enela membuka matanya. Membiarkan pupil matanya secara perlahan menerima sekumpulan cahaya yang mulai meneranginya. Membiarkan pupil matanya secara perlahan beradaptasi dengan keadaan yang melingkupinya kini.

Keadaan yang tak pernah sekali pun ada di benaknya.

Setitik air jatuh dari ujung matanya. Enela tau itu. Tapi dia tidak menghapusnya, ia membiarkannya. Karena tidak pernah sekali pun ia berniat menghapus air matanya yang belakangan ini selalu keluar dari mata indahnya. Ya, mata indah. Mata indah seperti yang pernah dikatakan seseorang. Untuknya.


"Jangan pernah sedikit pun menyakiti mata kamu ya. Karena aku sama sekali nggak mau kalo mata indah kamu itu terluka."

"Jadi kamu lebih memilih nggak mau ngeliat mata aku yang terluka dibandingkan diriku? Hem gitu ya...", seru Enela pura-pura ngambek. Bercanda.

"Enggaklah. Semua yang ada di diri kamu, nggak mau sedikit pun aku lihat terluka. For sure.", balas orang itu serius, tidak menanggapi candaan Enela. Seperti memang tidak terbesit niat sedikit pun untuk bercanda.


Enela hanya bisa tertawa lirih mengingat sedikit memori konversasinya dengan orang itu. Itu hanyalah salah satu sedikit konversasi indah yang mereka miliki. Dan Enela ingat semua itu. Ingat betapa indahnya setiap momen dan setiap konversasi yang mereka miliki. Ingat setiap gerakan yang selalu ada dari diri orang itu. Ingat setiap tanggal yang menemani momen-momen mereka. Ingat setiap keadaan dan situasi yang selalu mereka miliki. Enela masih ingat itu. Semuanya.

----------

"Nel!"

Enela terus berjalan. Tidak mau menghiraukan seruan dibelakangnya yang sedari tadi terus memanggilnya. Seperti tidak pernah lelah mengeluarkan suara itu. Seperti yang orang itu lakukan. Untuk Enela.

"Nel, please." seru orang itu sekali lagi. Mungkin ini sudah beratusan kali dirinya mengeluarkan kata "Nel".

Dengan berjalan cepat, Enela terus melaju. Ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan orang yang daritadi selalu mencarinya dan mengejarnya. Enela sama sekali tidak mau. Sekali pun hatinya berkata lain.

"Aw!" Enela terjatuh karena tanpa sengaja menabrak orang yang sedang berjalan di depannya. Shit, Enela ngedumel pelan. Gimana bisa sih dia -dalam keadaan seperti ini dengan tololnya tidak konsen memperhatikan jalan di depannya.

Bule di depannya, yang barusan bertabrakan dengan Enela, menatap Enela annoyed. "Watch your step, lady. Geez."

Melihat Enela yang barusan diomeli bule, Zeman, yang sedari tadi mengerjar Enela, hanya tertawa kecil. Tertawa karena dalam keadaan seperti ini pun kecerobohan Enela tetap tidak bisa dihindarkan. Menyadari keadaan Enela yang sedang jatuh terduduk, dengan cepat Zeman berlari kecil mendatanginya. Tidak ingin menyia-nyiakan situasi di depannya.

Dan bodohnya, Enela tidak menyadari itu.

"Habits never change." Zeman membantu Enela merapihkan buku-bukunya yang terjatuh.

Enela menyesal setengah mati. Kenapa dia tidak langsung kabur saja setelah bertabrakan dengan bule galak itu. Kenapa dia malah duduk melongo dan membiarkan Zeman mendatanginya sekarang. Two follies.

Enela pun tidak memperdulikan Zeman. Berusaha tidak memperdulikan Zeman. Namun...nyatanya susah.

"Thanks." ucap Enela singkat. Walaupun dalam keadaan seperti ini, dirinya masih tau diri untuk mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah membantunya. Sekali pun itu Zeman. Orang yang tidak ingin dia temui.

Tanpa banyak basa-basi lagi, Enela segera mengambil buku terakhir yang hendak Zeman berikan. Namun Zeman tidak membiarkan Enela mengambil segampang itu darinya. Tidak dalam situasi seperti ini.

"Sini bukunya." Elena berkata penuh urgensi.

"What book?" balas Zeman sambil menatap Enela dalam. Zeman rindu masa-masa seperti ini dengan Elena. Masa-masa dirinya bisa menjadi seorang Zeman Wira Sugandi. Bukan Zeman yang lain.

Enela melihat itu. Melihat tatapan dalam Zeman yang seperti biasa selalu membuatnya lemas. Lemas seperti ada dua kupu-kupu yang sedang berterbangan di perutnya.

"You're wasting my time. Gue nggak punya banyak waktu untuk ngeladenin sesuatu yang nonsense kayak gini." seru Enela dingin.

"Siapa bilang ini nonsense?" Zeman mengubah nada bicaranya. Ngejabanin nada dingin itu. Sikapnya berubah 180 derajat.

Enela gregetan setengah mati. "Zeman, mau kamu tuh apa sih?!"

Zeman mendekati wajahnya. Kini hanya beberapa centimeter jarak wajahnya dengan wajah perempuan manis yang amat sangat disayanginya ini. "I need a proof."

"What proof?" Enela memundurkan langkahnya, berusaha menjauhi wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Zeman. "Apa nggak cukup penjelasan yang udah aku kasih kemarin?"

"Aku nggak pernah butuh penjelasan kamu. Aku bilang bukti. Itu yang sedari dulu aku omongin kan," Zeman menatap Enela tajam, "yang selalu aku omongin. Dari awal kita ketemu. Semoga kamu selalu inget itu. Do you?"

I do, Zem. I'm not likely to forget it. Forget all about you..., batin Enela lirih.

Namun seperti biasa, batin dan pikiran tak selalu lah sejalan. "Of course I don't. Why should I? Ha, c'mon. Don't be stupid, Zem."

Zeman melihat itu. Melihat hal bullshit yang belakangan ini selalu Enela tunjukkan di hadapannya. Hal yang menjadi titik kebingungan Zeman pada Enela.

Zeman menarik napas panjang. Ia tau bahwa Enela bersandiwara. Sandiwara yang terus menerus dilakukannya. Sandiwara yang membuat Enela terlihat begitu rapuh di mata Zeman. Dan Zeman tidak akan 'memaksa' Enela melakukan itu lagi. Dirinya juga lelah untuk beragumentasi lagi. Setidaknya untuk hari ini.

Memang hanya untuk hari. Karena ia yakin hari ini...tidak akan pernah sama dengan esok.

"You can hide, but you cannot run. Sie können nicht lügen, liebe." Tutup Zeman sambil menggenggam tangan Enela hangat. "Love you..."

·ZFW· ♬☀♬