“Kayaknya gue kemaren ketemu Rama
deh, Jen.” seru Alina tiba-tiba.
Dan ucapannya sukses membuat Jenar
menoleh dengan cukup excited. “Hah, serius? Dimana?”
“Di Kalimilk. Kayaknya sih itu
emang dia.”
“Dia sama siapa? Ceweknya?” Suara
Jenar berubah sedih.
Alina menoleh ke sahabat
disebelahnya. Menyadari perubahan suara itu. “Nggak kok. Sama temen-temennya
sih gue liat. Rame gitu, cowok-cowok semua.”
Perubahan di raut muka Jenar
terlihat lebih cerah. Bahkan terlihat sedikit senyum di wajah Indo-nya.
Alina memandang sahabatnya.
Tatapannya berubah serius. “Sampe kapan lo mau nunggu Rama kayak gini, Jen?”
Jenar menyadari nada pertanyaan
Alina yang terdengar serius. Sama seperti nada yang ia dengar setiap sahabatnya
di Bandung, Gia, bertanya hal yang sama seperti ini. “Kenapa emangnya, Al?”
Alina berpikir sesaat, seperti
tengah mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Jenar. Ia ingin
membuat Jenar –menyadarkannya agar tidak terus-terusan berharap pada Rama.
Namun ia tidak ingin perkataannya malah akan menyakiti hati Jenar.
“Nggak papa. Cuma selalu amaze aja, lo bisa segininya nungguin
Rama hehe. Udah berapa tahun deh, Jen?”
Jenar nyengir mendengarnya. “Dari
SMP kelas 2 pas gue umur 13 tahun. Jadi udah berapa lama tuh? Hahaha.”
“Sekarang lo mau 21 tahun kan? Jadi
udah hmm... 8 tahun?!!? Gila!” Alina jadi takjub sendiri. Nggak menyangka Jenar
sukses bertahan menyayangi Rama selama itu. Bahkan Rama nya aja nggak tau!
“Gue obses ya, Al?” Tanpa disangka,
Jenar mengeluarkan pertanyaan yang sukses membuat Alina bingung harus menjawab
apa.
“Ngg...”
“Jawab aja yang jujur, Al. Gue
butuh pendapat yang realistis kali ini.” Jenar memotong dingin. Namun terselip
nada sedih di dalamnya.
“Gini ya, Jen. Perasaan yang
lo rasain sekarang ke Rama gimana? Maksudnya, menurut dari sudut pandang lo
sendiri ya.” Alina memulai dengan hati-hati. Ia tidak ingin Jenar salah
mengambil persepsi.
“Gue pikir, gue sayang sama Rama,
Al. 8 tahun gue nyimpen rasa ini, dan ini udah cukup membuat gue yakin kalo gue
emang udah sayang sama dia. Bahkan jauh dari sebelum ini. That’s I feel now.” Jenar menatap sahabatnya. Di matanya terlihat
sebuah keyakinan.
“Lo pernah ngebayangin nggak, kalo
pada akhirnya lo bisa ketemu Rama lagi, lo bakal ngelakuin apa?”
Di luar dugaan Alina, Jenar malah
tersenyum sedih. “Nggak tau, Al. Gue pernah ngebayangin itu, namun yang keluar
malah abstrak. Gue terlalu takut untuk ngebayangin itu. Gue takut semuanya
bakal cuma harapan semu gue semata.”
“Terlalu banyak yang ingin gue
lakukan kalo gue ketemu dia nanti.”
Alina mengangguk. Ia bisa merasakan
bahwa Jenar benar-benar menyayangi Rama. Alina yakin itu. Namun tetap saja ada
satu hal yang membuat Alina tidak yakin.
Apakah Rama memang akan menjadi
kebahagiaaan untuk Jenar?
“Mungkin lo, Gia, atau yang lainnya
yang tau masalah ini, ngeliat gue segitu yakinnya, segitu optimisnya dengan
Rama. Mungkin kalian bener, karena gue juga ngerasa begitu. Tadinya.” Suara
Jenar memecahkan keheningan.
Alina mengernyitkan keningnya.
“Tadinya? Maksudnya sekarang udah enggak?”
Jenar mengalihkan pandangan ke
jendela di samping kirinya. Terlihat butir butir air yang menempel di kaca
mobil. Tertanda di luar sedang gerimis. Jenar menghela nafas. Nafasnya
terdengar berat, seakan-akan ini pertama kalinya ia akan mengeluarkan
pernyataan yang tidak pernah ia keluarkan sebelumnya. Yang berusaha ia tahan
sejak tadi. Yang ia sembunyikan.
“Setelah gue sampai di stasiun Tugu
tadi, entah kenapa gue ngerasa gue nggak akan mendapatkan apa yang sudah lama
gue impikan selama ini disini. Gue ngerasa... kedatangan gue ke Jogja,
keputusan gue tinggal di Jogja, tidak akan merubah keadaan apa pun antara gue
sama dia.” Jenar tertunduk. “Mungkin kaget ya, denger seorang Jenar yang selama
ini selalu sabar dan positif thinking, bahkan cenderung dingin dan nggak
mempedulikan pendapat kalian semua, tiba-tiba berkata seperti ini.”
Mendengarnya, Alina hanya bisa
menganga’. Tidak menyangka sama sekali Jenar akan berkata seperti ini.
“Terus sekarang lo mau gimana? Mau
pulang lagi ke Bandung atau Jakarta gitu?” Hanya itu respon yang sanggup Alina
berikan saat ini.
“Enggak.” Jenar mengangkat
kepalanya, menoleh ke arah Alina. “Gue sadar, ada sesuatu yang memang sudah
menakdirkan gue untuk tinggal di Jogja. Allah sudah menakdirkan itu buat gue.
Walaupun itu mungkin bukan takdir Rama untuk gue. Tapi entah kenapa gue yakin
itu. Ada suatu kebahagiaan yang Allah takdirkan untuk gue disini. Di Jogja.”
“Jadi lo udah nggak bakal berjuang
lagi untuk ketemu Rama dan menjelaskan apa yang selama ini lo udah persiapkan?”
Jenar menatap Alina dalam. “Nggak
gitu juga. Gue akan tetap berusaha untuk ketemu Rama, sekalian mencari tau
apakah yang selama ini gue rasakan itu cuma rasa penasaran atau emang
bener-bener sayang.”
“Setidaknya biarkan gue menemukan
jawaban yang benar-benar bisa membuat gue keluar dari godaan masa lalu ini,
Al. Let me find the answer.”
----------
(sepotong kisah dari One Temptation)
- ZFW | 2013 -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar