Selasa, 02 April 2013

"It's Only With The Heart That One Can See Rightly"


"Oh jadi gitu."

Jenar menatap cowok disampingnya dengan pandangan bercampur aduk, antara sedih namun juga jengkel. "Kamu dengerin aku nggak sih?"

"Kalo aku nggak dengerin kamu, ngapain aku daritadi masih disini?"

Geez. Ini orang cepet banget sih berubahnya. Perasaan tadi lembut, kenapa sekarang jadi galak dan ngeselin lagi. Susah emang kalo udah tabiat.

Jenar dan Bayu terduduk di atas pasir putih dengan hamparan laut luas di depannya. Sekitar mereka begitu sepi, hampir tidak terlihat orang sama sekali. Keadaan ini persis saat mereka berdua berada di pantai hari Minggu lalu. Pantai yang berbeda walau dengan orang yang sama.

"Kamu terlalu berlebihan." ucap Bayu tiba-tiba. Memecah keheningan yang ada.

Jenar melongo. Nggak nyangka kalo cowok galak nan dingin ini akan merespon ceritanya barusan. Tapi sayangnya Jenar malah nggak ngerti akan respon tiba-tiba Bayu tersebut.

"For what?"

"For all that you did so far." jawab Bayu. Nadanya berubah menjadi serius. Serius tatapannya ke arah laut yang ada di depannya. Begitu lurus dan tajam.

"Aku hanya mendengar apa yang telah hatiku katakan. That's it."

"So, what is it?"

Kalau Gia, Alina, atau siapa pun yang bertanya seperti ini, pasti Jenar akan segera meneriaki mereka yang inign tahu saja. Tapi entah kenapa, pada Bayu, ia tidak ingin melakukan itu. Ia hanya ingin berkata yang sejujurnya pada cowok ini.

"Rama." jawab Jenar singkat. Tanpa disadari, ia malah tertunduk malu. Menahan air matanya yang sepertinya ingin mengalir lagi.

"Kalau gitu selama ini kamu salah dalam mengartikan apa yang hati kamu katakan."

Jenar berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia kembali menatap Bayu disampingnya. Ia tidak mengerti apa yang cowok ini ucapkan barusan.

Bayu melirik ke arah Jenar yang sedang menatapnya dengan tampang setengah pongonya. Tipikal Jenar yang menunjukkan kalau ia sedang tidak mengerti atas apa yang barusan cewek ini dengar.

Yang sejujurnya merupakan tatapan yang begitu Bayu sukai dari wajah tegas cewek ini.

"Kenapa masang tampang seperti itu? Nggak ngerti?" tanya Bayu dengan nada nyeleneh.

Jenar mendengus. Lagi-lagi Bayu kumat sikap ngeselinnya.

"Hati nggak akan pernah mengatakan apa yang akan menyakiti diri kita. Tapi hati juga nggak pernah mengatakan secara jelas apa yang terbaik untuk kita. Hati akan membiarkan kita mencari semua itu sendiri, namun dengan tetap mengikuti petunjuk darinya."

Bayu melanjutkan. "Hati melihat apa yang tidak terlihat oleh mata."

Jenar terperangah mendengar setiap kalimat yang diucapkan Bayu. Tidak pernah ia menyangka seorang Bayu yang dikenalnya begitu jutek, dingin, galak, dan ketus, akan berkata-kata quotable seperti barusan.

Dan Jenar baru ngeh. Apa yang Bayu ucapkan terakhir, mengingatkannya pada sebuah quote.

"It's only with the heart that one can see rightly. What is essential is invisible to the eye."

"It's only with the heart that one can see rightly. What is essential is invisible to the eye..."

Jenar dan Bayu menoleh bersamaan. Keduanya berpandangan sesaat.

Sampai akhirnya Bayu duluan yang melepaskan pandangan 3 detik itu. "Kamu tau juga quote itu?"

Jenar mengangguk. Mendadak ia menjadi sedih kembali. Ia tahu quote itu dari Rama. Rama pernah memberi tahunya tentang kutipan indah itu. Kutipan yang selalu ada dalam benak Jenar.

"Tapi aku nggak tahu dari mana awalnya quote itu. Siapa yang buat, aku nggak tahu."

"Aneh." serunya dengan nada nyeleneh. Tipikal Bayu yang ngeselin bagi Jenar. "Itu adalah quote di Le Petit Prince, sebuah novel yang lebih dikenal dengan nama The Little Prince." tambah Bayu seraya menjelaskan tanpa diminta.

"Oh." Jenar mengangguk-angguk. "Tapi aku masih nggak ngerti, kenapa kamu bilang aku salah dalam mengartikan apa yang hati aku katakan saat aku bilang hatiku mengatakan Rama?" Jenar kembali pada topik semula. Ingin menuntaskan rasa yang masih terus berada di benaknya.

Bayu terdiam sesaat. "Selama ini dengan apa kamu melihat?

"Mata."

"Pernahkah kamu membiarkan ada hal lain yang membantu mata kamu untuk 'melihat'?"

"Yang namanya melihat itu pasti pake' mata lah Bay."

"Lalu apa yang kamu tangkap dari mata kamu selama ini? Untuk hati kamu."

Jenar berpikir sesaat. "Hmm... Rama."

"Pernahkah kamu membiarkan mata kamu melihat ada yang lain selain dia?"

"Nggak ada yang bisa membuat aku melihat yang lain untuk hati aku kecuali Rama, Bay." jawab Jenar yakin.

Bayu menatap Jenar dalam. "Itulah alasannya. Kamu tidak membiarkan ada hal lain yang melihat ke luar. Selama ini kamu hanya memperbolehkan kedua mata kamu yang melihat ke luar. Dan tanpa sadar kamu paksakan itu ke dalam hati kamu. Seakan semuanya sudah menutup celah untuk hati kamu. Menutup kesempatan untuk hati kamu melihat ke luar dan mengatakan apa yang sebenarnya terbaik untuk kamu."

"Tapi mungkin kamu nggak salah apabila selama ini menganggap hati kamu hanya mengatakan Rama. Karena selama ini memang tidak mudah mengerti atas semua yang hati katakan. Yang hati katakan memang tidak yang seindah kita harapkan. Biasanya. Tapi pasti itu yang terbaik untuk kita nantinya."

Bukannya merespon atas ucapan filosofi sederhana Bayu barusan, Jenar malah menatap Bayu penuh tanda tanya. "Apakah selama ini kamu udah mendengarkan semua yang hati kamu katakan, Bay?"

-------------

Ini adalah sepotong kisah dari proyek saya yang berikutnya; One Temptation.
Will be coming soon. Aamiin ♥☺


• ZFW | 2013 •

Tidak ada komentar:

Posting Komentar