Selasa, 28 Agustus 2012

"You Can Hide, But You Cannot Run"

(sepotong cerita dari "Two Birds")

♬☀♬

Enela membuka matanya. Membiarkan pupil matanya secara perlahan menerima sekumpulan cahaya yang mulai meneranginya. Membiarkan pupil matanya secara perlahan beradaptasi dengan keadaan yang melingkupinya kini.

Keadaan yang tak pernah sekali pun ada di benaknya.

Setitik air jatuh dari ujung matanya. Enela tau itu. Tapi dia tidak menghapusnya, ia membiarkannya. Karena tidak pernah sekali pun ia berniat menghapus air matanya yang belakangan ini selalu keluar dari mata indahnya. Ya, mata indah. Mata indah seperti yang pernah dikatakan seseorang. Untuknya.


"Jangan pernah sedikit pun menyakiti mata kamu ya. Karena aku sama sekali nggak mau kalo mata indah kamu itu terluka."

"Jadi kamu lebih memilih nggak mau ngeliat mata aku yang terluka dibandingkan diriku? Hem gitu ya...", seru Enela pura-pura ngambek. Bercanda.

"Enggaklah. Semua yang ada di diri kamu, nggak mau sedikit pun aku lihat terluka. For sure.", balas orang itu serius, tidak menanggapi candaan Enela. Seperti memang tidak terbesit niat sedikit pun untuk bercanda.


Enela hanya bisa tertawa lirih mengingat sedikit memori konversasinya dengan orang itu. Itu hanyalah salah satu sedikit konversasi indah yang mereka miliki. Dan Enela ingat semua itu. Ingat betapa indahnya setiap momen dan setiap konversasi yang mereka miliki. Ingat setiap gerakan yang selalu ada dari diri orang itu. Ingat setiap tanggal yang menemani momen-momen mereka. Ingat setiap keadaan dan situasi yang selalu mereka miliki. Enela masih ingat itu. Semuanya.

----------

"Nel!"

Enela terus berjalan. Tidak mau menghiraukan seruan dibelakangnya yang sedari tadi terus memanggilnya. Seperti tidak pernah lelah mengeluarkan suara itu. Seperti yang orang itu lakukan. Untuk Enela.

"Nel, please." seru orang itu sekali lagi. Mungkin ini sudah beratusan kali dirinya mengeluarkan kata "Nel".

Dengan berjalan cepat, Enela terus melaju. Ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan orang yang daritadi selalu mencarinya dan mengejarnya. Enela sama sekali tidak mau. Sekali pun hatinya berkata lain.

"Aw!" Enela terjatuh karena tanpa sengaja menabrak orang yang sedang berjalan di depannya. Shit, Enela ngedumel pelan. Gimana bisa sih dia -dalam keadaan seperti ini dengan tololnya tidak konsen memperhatikan jalan di depannya.

Bule di depannya, yang barusan bertabrakan dengan Enela, menatap Enela annoyed. "Watch your step, lady. Geez."

Melihat Enela yang barusan diomeli bule, Zeman, yang sedari tadi mengerjar Enela, hanya tertawa kecil. Tertawa karena dalam keadaan seperti ini pun kecerobohan Enela tetap tidak bisa dihindarkan. Menyadari keadaan Enela yang sedang jatuh terduduk, dengan cepat Zeman berlari kecil mendatanginya. Tidak ingin menyia-nyiakan situasi di depannya.

Dan bodohnya, Enela tidak menyadari itu.

"Habits never change." Zeman membantu Enela merapihkan buku-bukunya yang terjatuh.

Enela menyesal setengah mati. Kenapa dia tidak langsung kabur saja setelah bertabrakan dengan bule galak itu. Kenapa dia malah duduk melongo dan membiarkan Zeman mendatanginya sekarang. Two follies.

Enela pun tidak memperdulikan Zeman. Berusaha tidak memperdulikan Zeman. Namun...nyatanya susah.

"Thanks." ucap Enela singkat. Walaupun dalam keadaan seperti ini, dirinya masih tau diri untuk mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah membantunya. Sekali pun itu Zeman. Orang yang tidak ingin dia temui.

Tanpa banyak basa-basi lagi, Enela segera mengambil buku terakhir yang hendak Zeman berikan. Namun Zeman tidak membiarkan Enela mengambil segampang itu darinya. Tidak dalam situasi seperti ini.

"Sini bukunya." Elena berkata penuh urgensi.

"What book?" balas Zeman sambil menatap Enela dalam. Zeman rindu masa-masa seperti ini dengan Elena. Masa-masa dirinya bisa menjadi seorang Zeman Wira Sugandi. Bukan Zeman yang lain.

Enela melihat itu. Melihat tatapan dalam Zeman yang seperti biasa selalu membuatnya lemas. Lemas seperti ada dua kupu-kupu yang sedang berterbangan di perutnya.

"You're wasting my time. Gue nggak punya banyak waktu untuk ngeladenin sesuatu yang nonsense kayak gini." seru Enela dingin.

"Siapa bilang ini nonsense?" Zeman mengubah nada bicaranya. Ngejabanin nada dingin itu. Sikapnya berubah 180 derajat.

Enela gregetan setengah mati. "Zeman, mau kamu tuh apa sih?!"

Zeman mendekati wajahnya. Kini hanya beberapa centimeter jarak wajahnya dengan wajah perempuan manis yang amat sangat disayanginya ini. "I need a proof."

"What proof?" Enela memundurkan langkahnya, berusaha menjauhi wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Zeman. "Apa nggak cukup penjelasan yang udah aku kasih kemarin?"

"Aku nggak pernah butuh penjelasan kamu. Aku bilang bukti. Itu yang sedari dulu aku omongin kan," Zeman menatap Enela tajam, "yang selalu aku omongin. Dari awal kita ketemu. Semoga kamu selalu inget itu. Do you?"

I do, Zem. I'm not likely to forget it. Forget all about you..., batin Enela lirih.

Namun seperti biasa, batin dan pikiran tak selalu lah sejalan. "Of course I don't. Why should I? Ha, c'mon. Don't be stupid, Zem."

Zeman melihat itu. Melihat hal bullshit yang belakangan ini selalu Enela tunjukkan di hadapannya. Hal yang menjadi titik kebingungan Zeman pada Enela.

Zeman menarik napas panjang. Ia tau bahwa Enela bersandiwara. Sandiwara yang terus menerus dilakukannya. Sandiwara yang membuat Enela terlihat begitu rapuh di mata Zeman. Dan Zeman tidak akan 'memaksa' Enela melakukan itu lagi. Dirinya juga lelah untuk beragumentasi lagi. Setidaknya untuk hari ini.

Memang hanya untuk hari. Karena ia yakin hari ini...tidak akan pernah sama dengan esok.

"You can hide, but you cannot run. Sie können nicht lügen, liebe." Tutup Zeman sambil menggenggam tangan Enela hangat. "Love you..."

·ZFW· ♬☀♬

Tidak ada komentar:

Posting Komentar